The Father of Genetics

Penulis: Aloysius Vito Christantyo

Johann Gregor Mendel, yang dikenal sebagai Gregor Mendel, yang dijuluki sebagai ‘Bapak Genetika’ karena eksperimennya yang mengubah pemahaman tentang pewarisan sifat. Ia melakukan persilangan terseleksi pada tanaman kacang ercis atau kacang polong untuk mempelajari bagaimana sifat menurun ke keturunannya. Dalam eksperimen ini, Mendel mengamati bahwa sifat-sifat tertenru seperti bentuk biji, warna maupun tinggi tanaman diturunkan sesuai pola yang dapat diprediksi. Ia merumuskan konsep unit karakter yang kini dikenal sebagai gen dan memperkenalkan konsep Alel Dominan serta Resesif. Hasil percobannya melahirkan 2 prinsip utama yaitu antara lain, Hukum Segregasi (atau Hukum Mendel I), yang menyatakan bahwa setiap pasangan alel akan berpisah secara acak saat pembetukan gamet, serta Hukum Asortasi Independen (Hukum Mendel II), yang menjelaskan bahwa transfer Alel dari sifat berbeda berlangsung secara bebas tanpa saling memengaruhi.

Masa kecil Mendel diisi dengan pekerjaan sebagai tukang kebun dan belajar perlebahan. Pada masa mudanya, ia menapaki Pendidikan di Gimnasium di Opava. Namun, panggilan rohaninya membawanya ke Fakultas Filsafat Universitas Olomouc pada tahun 1843, dimana ia belajar filsafat praktis dan teoretis, serta fisika.

Di tengah penelitiannya, Mendel terinspirasi oleh profersornyam, seperti Friedrich Franz & Johann Karl Nestler. Pada tahun 1843, ia memulai pelatihan imam dan atas rekomendasi gurunya (Friedrich Franz) bergabung dengan Biara St. Thomas di Brno. Di biara, ia mengadopsi nama Gregor dan memulai perjalanan panjangnya dalam dunia ilmu pengetahuan. Pada tahun 1851, Mendel berangkat ke Universiitas Wina dengan dukungan dari Abbot CF NAPP. Di sana, ia belajar di bawah bimingan dosennya yang terkenal, Christian Doppler. Kembali ke Biara St. Thomas pada tahun 1853, Mendel mulai mengajar, terutama dalam bidang fisika. Pada 1867, ia menggantikan NAPP sebagai kepala biara, menandai langkah penting dalam perjalanan spiritual dan ilimahnya.

Selain karyanya dalam pemuliaan tanaman, Mendel juga memperdalam pengetahuannya dalam Meterorologi & Astronomi. Pada tahun 1865, ia mendirikan ‘Austira Metereological Society’. Namun pencapaian terbesarnya terletak pada percobaan dengan kacang polong di Biara. Antara 1856 – 1863. Mendel membudidayakan hukum-hukum genetika mendasar yang di kenal sebagai ‘Hukum Mendel Warisan’.

Meski Mendel mengemukakan hasil penelitiannya pada tahun 1866, karya awalnya tidak langsung diakui oleh komunitas ilmiah pada zamannya. Baru sekitar 40 tahun kemudian, sekitar awal abad ke 20 temuan Mendel diakui Kembali oleh para ilmuwan seperti Hugo De Vries dan Carl Correns yang membuktikan Kembali hukum-hukumnya. Keberanian Mendel melakukan pendekatan eksperimental dan penggunaan analisis statistic pada ribuan tanaman menjadikan dasar bagi berkembangnya Ilmu Genetika Modern. Kini namanya tak terpisahkan dari konsep dasar pewarisan Genetik yang kita pelajari dalam Biologi. Mendel memang membuktikan bahwa pola pewarisan mengikuti aturan matematis dan dapat diaplikasikan secara Universal dalam pewarisan Plasma Genetik.

Presentasi hasil penelitiannya dalam pertemuan History Society Alam Brunn pada tahun 1865 menandai tonggak penting. Meskipun awalnya hanya mendapat perhatian lokal, karya Mendel mendefinisikan landasan hibridisasi tanaman dan warisan genetic. Makalahnya ‘Versuche über Pflanzenhybriden’ (Percobaan pada Hibridisasi Tanaman) diterbitkan pada tahun 1856, tetapi baru mendapatkan pengakuan setelah beberapa dekade. Setelah berhasil dengan percobaan kacang polong, Mendel  melanjutkan penelitian dengan lebah madu, mencoba memperluas wawasannya ke dunia hewan. Namun, kesulitan dalam mengendalikan perilaku kawin lebah ratu membuatnya kesulitan menggambarkan keturunan dengan jelas.

Ketika Mendel diangkat sebagai kepala biara pada tahun 1869, fokusnya mulai beralih ke tanggung jawab administrative yang meningkat. Konflik dengan pemerintah sipil atas pajak keagamaan menyerap Sebagian besar waktu dan energinya. Pada 6 Januari 1884, Mendel meninggal karena kronis nefritis di usia 61 tahun. Meskipun kariernya sebagai ilmuwan praktis berakhir setelah menjadi kepala biara, penemuan Mendel membuka pintu bagi ilmu pengetahuan Genetika Modern. Warisannya yang penting kini dihargai sebagai tonggak Sejarah dalam pemahaman kita tentang pewarisan sifat. Gregor Mendel, dari peternakan di Austria hingga ke laboratorium biara, telah meninggalkan jejak tak terhapuskan dalam dunia ilmu pengetahuan.

REFERENCES :

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top